Sabtu, 07 Mei 2022

Salah Kalkulasi dalam Pengambilan Keputusan Penting di Fase Hidup

Gue teringat kejadian 6 tahun yang lalu ketika gue resign dari tempat kerja pertama gue di Indonesia. Kerjaan formal yang terikat kontrak secara full-time di Indonesia. Waktu itu gue baru balik internahip dari US. Setelah sempat melamar pekerjaan ke banyak perusahaan sejak sebelum pulang ke Indonesia, akhirnya gue mendapat panggilan interview dari salah satu PMA yang baru beroperasi di daerah Serang. Waktu itu job yang tertera adalah sebagai translator. Gue langsung datang interview dan ternyata cocok dengan Manajer Taiwannya. Akhirnya gue bekerja sebagai staf purchasing di perusahaan tersebut. Di perusahaan inilah pertama kalinya gue belajar tentang dunia purchasing dan procurement yang ternyata asik dan seru bagi gue, gue suka kerjaannya. Tapi, karena kepolosan gue waktu itu, gue gampang terhasut sama orang. Waktu itu ada yang menghasut gue untuk resign karena katanya manager gue galak banget dan kerja di situ tekanan batin. Waktu itu gue memang merasa exhausted banget karena baru kenal sama jenis kerjaannya, tapi kerjaannya banyak banget. Sampe bejibun. Purchase Request, Purchase Order yang diproses tiap hari itu banyak banget karena memang perusahaannya baru dan banyak yang harus dipurchase. Bahkan urusan purchase keperluan kantorpun yang biasanya dihandle oleh GA, langsung dipegang oleh gue dari mulai urus pengadaan kitchen set, kursi kantin, meja-meja kantor, AC, Telpon, peralatan elektronik lain, Valve yang harganya puluhan sampe ratusan juta, berbagai macam jenis besi dan kebutuhan konstruksi lainnya, pengadaan dan handle kontrak sama kontraktor yang handle pembangunan gedung dan pabrik produksi, pengadaan seragam, sewa forklift dan crane, dan masih banyak kerjaan pengadaan lainnya yang waktu itu gue handle dalam waktu hampir 3 bulan. Setelah gue pikir lagi sekarang, kuat juga ya gue ngelakuin kerjaan sebanyak itu hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Lalu apa yang bikin gue akhirnya terhasut untuk resign dari kantor itu padahal gue menyukai kerjaannya? Karena waktu itu gue masih terlalu idealis dengan jurusan kuliah gue. Gue basic-nya kuliah pertanian dan gue seneng kerja sama tanaman
 Gue masih ingin mencari kerjaan yang sesuai sama bidang kuliah gue dulu. Gue ngga bisa meluangkan waktu buat mencari-cari kerjaan lainnya dengan banyaknya kerjaan yang gue handle saat itu. Lalu tiba-tiba senior gue di kampus dulu menawarkan ke gue untuk menggantikan posisi dia sebagai SPV  kebun di daerah Puncak Cisarua. Akhirnya gue coba proses lamaran melalui Email dan telpon, gue tertarik untuk kerja sama owner-nya ini. Tapi gue belum mengiyakan karena gue perlu diskusi dulu sama orang tua dan salahnya gue waktu itu meminta saran dari teman yang memang sering menghasut untuk resign. Tentu saja dia orang yang paling semangat memberikan saran buat langsung resign. Akhirnya gue mengajukan surat resign ke manajer Taiwan gue, dia shock karena dia merasa selama ini gue ga ada masalah sama kerjaan dan gue keliatan happy menjalankan kerjaan di sana. Dia coba menahan gue dengan menawarkan beberapa hal. Gue waktu itu terima tawaran yang diberikan sama manajer Taiwan gue itu. Tapi ternyata tawaran yang diberikan sama manajer gue harus dapat approval dari direktur utama yang ternyata ditolak sama direkturnya. Gue akhirnya memutuskan untuk langsung pindah di hari Seninnya karena penolakan tawaran dari direktur itu diinfokan di hari Sabtu sore. Gue masih inget banget sebenernya waktu itu masih galau, tapi akhirnya gue memutuskan menyudahi kerjaan di PMA itu di tengah perjalanan berangkat kerja yang akhirnya gue putuskan untuk putar balik ke rumah gue lalu gue mulai packing buat langsung pergi ke Bogor. Di perjalanan itu, orang HRD dan Manajer Taiwan gue menelpon gue, tapi karena posisinya gue lagi mengendarai motor, akhirnya ngga gue angkat. Sesampainya gue di rumah, gue langsung membalas chat buat menginfokan bahwa gue memutuskan untuk resign. Tidak ada kewajiban one month notice karena waktu itu gue masih dalam masa probation. Setelah gue resign, gue kira orang yang sudah menghasut gue bakal resign juga, ternyata ngga. Dia stay di PMA tersebut sampai beberapa tahun kemudian. Life lesson yang gue dapatkan dari sini adalah jangan mengambil keputusan secara gegabah apalagi dalam kondisi emosi yang tidak baik dan yang kedua jangan mudah terhasut dengan orang lain karena yang harus menjalani konsekuensi dari keputusan yang sudah kita ambil hanya kita sendiri. Orang lain tidak akan ikut menemani kita menjalani konsekuensi tersebut.

Setelah gue kerja di Puncak Cisarua, gue menyesali keputusan gue resign dari kantor sebelumnya karena gue merasa nyaman dengan kerjaannya dan aksesnya mudah. Gue ngga betah stay di Puncak Cisarua ini karena tempatnya terlalu jauh  dan terpencil, susah diakses kendaraan dan susah sinyal juga. Waktu interview by phone dengan owner-nya, gue tanya apakah tempatnya bisa diakses dengan motor? Beliau menjawab bisa. Memang tempat ini bisa dilalui kendaraan, tapi bagi yang ahli. Untuk pengendara biasa seperti gue ini ngga bakal bisa bawa motor di tempat se-ekstrim ini. Jalanannya terlalu terjal dan tanjakannya terlalu curam. Berbahaya bagi pengendara yang tidak mahir mengendalikan kendaraannya di medan sulit. Untuk menggunakan fasilitas kendaraan umum ongkosnya lumayan. Ojek sekali jalan dari lokasi kebun ke jalan raya terdekat waktu itu sekitar 50-an ribu, belum ongkos angkot dari jalan utama cisarua ke Bogor Kota-nya. Bangkrut gue kalau tiap minggu turun gunung pakai kendaraan umum. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja di tempat ini. Kesalahan apa yang gue lakukan di fase hidup ini? Gue ngga melakukan survey secara langsung untuk mengetahui kondisi lapangan di tempat kerja yang baru. Pelajaran ini sangat berharga buat gue.

Perjalanan karir gue berlanjut di tempat baru, tapi waktu itu gue masih belum bisa memaafkan diri gue yang sudah gegabah dalam mengambil keputusan. Gue masih belum move on dari kantor tersebut. Sampai akhirnya di pertengahan tahun 2017 gue udah mulai bisa memaafkan diri gue. Gue mencoba mengambil hikmah dari kejadian itu bahwa gue akhirnya dipertemukan sama Liza dan Yosi, 2 kosmates gue selama tinggal di Jakarta. 2 manusia yang menemani gue melewati kegalauan gue, yang pernah keliling naik busway tanpa tujuan, yang makan di Lubuk Batung beli 2 porsi dimakan bertiga saking mahalnya harga ikan bakar favorit kita dengan kuah jariyang di nasinya. Mereka yang membantu gue untuk menyembuhkan diri gue yang sebelumnya selalu menyalahkan diri gue sendiri.

Puncak dari selesainya rasa bersalah gue resign dalam kondisi emosional yang tidak stabil di PMA tempat kerja pertama gue adalah ketika gue ambil paklaring untuk keperluan klaim JHT tanggal 4 April 2022 lalu. Gue mengamati ruangan yang sama dengan ruangan yang sebelumnya gue tempati 6 tahun yang lalu, hanya saja orang-orangnya sudah banyak yang berbeda. Setelah menerima paklaring dan berbincang dengan tim HRD yang bertemu dengan saya, saya akhirnya bisa menyelesaikan sedikit sisa rasa bersalah saya, karena kalau saya tidak resign pada waktu itu, saya mungkin tidak akan tahu tentang perkembangan dunia kerja di luar sana. Mungkin saya akan stuck di sini. Mungkin saya tidak akan mengeksplorasi diri gue, mengikuti kegiatan dan kelas kelas pengembangan diri selama beberapa tahun belakangan ini, bertemu dengan banyak orang-orang baru di hidup gue. We can't connect the dot forward, kita hanya akan tau untaian-untaian terhubung di hidup kita setelah kita melaluinya.

0 komentar:

Posting Komentar