Minggu, 26 Juni 2016

International Unboundary Friendship (yang secara ngga langsung jadi family)

Gue, termasuk tipe orang introvert INTJ yang populasinya hanya ada 1% di dunia ini, yang otomatis bisa dibaca kalo gue termasuk tipe orang yang susah buat ngebuild relationship sama orang, kecuali ada special occasion. Relationship di sini ngga ngerefer ke hubungan dua manusia lawan jenis yang serius ya, hhaha, tapi lebih ke hubungan pertemanan, persahabatan, or whatsoever we call this kind of relationship.

Along my whole life yang seperempat abad ini, jumlah sohib karib gue masih bisa dihitung pake jari. Dihitung jari meeeen... kebayang kan seberapa sedikit jumlahnyaa... Iya gitu.. dan kok gue bisa tahan? Bisa lahhh.. Karena walopun sedikit, hubungan gue dan mereka termasuk intens.. ke-intens-an hubungan gue juga berlaku sama temen-temen magang gue dulu selama di US. Even we've been apart for miles away, but we still keep in touch each other.

Here I'll tell each of them one by one. Pertama kali gue dateng, gue ketemu temen dari China yaitu Xiao Yan and Wan Wei. We've been together for 5 months. Yup, 5 months less than a year. But we still have a good relation tho. Awalnya kita deket banget pas ada tragedi mobil rusak di rumah. Waktu itu, anak magang yang dari Haiti blaming Wan Wei yang ngerusakin mobil, padahal Wan pergi ke Harris Teeter bareng gue and nothing happened at that time. And one day before it, Anak Haiti yang rese itu, dia nyetir mobil sendirian tanpa SIM. For sure, I stood for Wan Wei. Walopun sampe akhir tetap jadi misteri. Til now, I still keep in touch with them.

Next, they're the special one from Brazil. Namanya Rafa and Gabi. Rafa kerjanya di satu section sama gue yaitu di downstair, sedangkan Gabi satu section sama Ka Lona. We have a lot of different things in life, but we learn to understand each other. Mereka yang punya kebiasaan nge-beer tiap minggu paham bener kalo gue dilarang minum jenis kaya begituan, jadi mereka ngga pernah iseng atau maksa maksa gue buat nyobain begituan. That is only one example, masih banyaak hal-hal tolerable lainnya yang kita lakuin bareng-bareng. Mereka udah ngajarin banyaak hal sama gue, buat tetep humble segimanapun perfectnya mereka, buat ramah sama semua orang walau dengan kecantikan mereka, dan belajar to express the feeling and emotion to your bestfriends.

Alexandra adalah teman main selama magang hampir satu tahun di US. Kita mulai waktu magang hampir bersamaan, cuma beda beberapa hari. Speechless deeh kalo ngomongin nih anak. Kita pernah gontok-gontokan dan diem-dieman, ya namanya temen. Tapi dia udah ngajarin gue banyak hal juga, khususnya buat jadi orang perhitungan dengan pengeluaran sama buat be yourself with your weirdness whatever people will talk to you about it, JUST BE YOU!!!

Sesi selanjutnya ini sesi dua, karena biasanya periode magang berganti setahun dua kali, di bulan September sama di bulan Februari. This is the best american memories that I have. During the time I spent together with them, I count it day by day as a good memories.

Di sesi dua ini diawali sama kekosongan rumah selama beberapa minggu. Dari yang rame ber-9 jadi tinggal 5 orang, yaitu gue, Ka Lona, Alexa, and 2 Haitian girls. Diawali kedatangan Vicky dari China, yang harusnya Thais dateng duluan, terus abis itu Thais setelah menyelesaikan permasalahan visanya, disambung CL and An yang beda beberapa Hari, diakhiri sama Hanna. We'll stay together till the end of my internship kecuali Ka Lona yang balik di bulan April.

Vicky, she is a chinese girl, ngga berharap terlalu banyak, but she is a nice girl. Dia pernah bikinin gue bubur ayam brokoli pas gue lagi sakit, pokonya dia itu care bangettt deh sama gue. Sometimes, I was feeling so guilty with her because I didn't treat her as best as I could. Namanya juga manusia yaa, banyak khilaf dan lupanya. Dan emosinya juga. Jadi ya gitu weh lah pokonya. I still keep in touch with her, dia selalu bilang ke gue, If someday I come to China, I have best place to go because she'll stay with me and guide me and provide the best for me. Siapa yang ngga melting cobaaa digituin. Untung Vicky cewe, bukan cowo.. kalo ngga gue udah baper maksimal ituu.. hhahaa

After Vicky, datenglah CL sama An. CL orangnya cool. Section dia pindah pindah dari upstair ke downstair. Since she stayed in Downstair, gue jadi deket banget sama dia.

CL ngajarin gue buat bener2 jadi the truest me and never listen to anybody yang bakal ngejatohin gue. Just be who you are with your unique character. Awalnya gue sama Alexa masih gimana gitu, but since CL come between us, kita jadi lebih hidup.

Kalo An, dia ngajarin kita buat selalu brave, punya impian yang besar and work the best buat ngewujudin impiannya. Eventhough, ada beberapa hal yang ngga cocok antara gue sama An, tapi kita saling menghargai satu sama lain.

Gue lupa kapan Thais dateng, she supposed to start her internship on February, but she had an issue with her visa, so she came on March. Thais ini special, dia satu satunya cewek brazil yang ngga minum alkohol. She said that she has an allergic of it. Dia ini orangnya wise banget. Udah ngajarin banyak hal juga di hidup gue buat jadi lebih baik.

The last person who came in my internship is Hanna. Awal dateng, Hanna lumayan bawel, tapi ngga sama gue. I don't know how we started it, tapi kita mulai deket and we have a bold relationship after that. I still remember ketika adeknya dateng kita yang jemput dan nganterin bahkan sampe ngurus rentalan mobil pas orang tuanya dateng dan bantu nemenin dia ngurus setiap tetek bengek dari mobil yang dia beli. Hanna yang udah ngebuka mind gue dan bikin gue ngebet banget buat ambil master program di Jerman sampe akhirnya gue menemukan program yang gue mau di Technische Universitat Munchen di Horticulture Business Managementnya. I'll fight for it deh pokoknya!!!

And now, I do miss them so much. So so so much. I hope I can make another international unboundary friendship again in another program and another place.

0 komentar:

Posting Komentar