Sabtu, 22 Juli 2017

Menata Hidup setelah Menata Gigi (Before After Pemasangan Behel

Awal bulan Juli 2017 gue lupa tepatnya tanggal berapa, gue mengalami insiden patah gigi. Gigi yang sebelum ke dokter gigi gue kira gigi taring (padahal pas mau cabut dikasih tau itu gigi premolar, bukan gigi taring) patah. Sebelumnya gigi ini memang sudah keropos, dan pada malam hari tanggal 2 atau 3 Juli gigi ini patah dan menyisakan sedikit mahkota gigi yang tajam yang membuat gue ngga bisa ngunyah makanan lagi. Akhirnya dengan tekad sekuat baja gue memberanikan dateng ke dokter gigi seorang diri ketika hari libur gue di Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI. Gue libur di hari kerja, jadi masih bisa dateng ke dokter gigi dengan budget yang ngga bakal nguras kantong sampe kembes. Satu note yang perlu digarisbawahi adalah kedatangan gue ke dokter gigi ini adalah kedatangan perdana gue setelah bertahun tahun gue trauma sama yang namanya dokter gigi. Prestasi yang luar biasa sekali ini. Sekalinya dateng ke dokter gigi langsung disuruh cabut 4 gigi. What the h*ll? Sumpah ini di luar dugaan. Padahal niatnya ke dokter gigi hanya mau cabut satu gigi, tapi ternyata yang wajib dicabut ada 4.

Cerita cabut 4 gigi ini diawali dengan datengnya gue ke RSGM jam 8 pagi. Kosan gue ada di sekitaran Matraman, which is hanya berjarak 5 menit dari RSGM. Setelah nyampe RSGM, sudah ada beberapa pasien yang sudah antri. Gue nyampe RSGM pukul 8.20 a.m. dan langsung melakukan pendaftaran dengan mengisi beberapa data pada form yang diberikan dan membayar biaya pendaftaran sebesar RP. 15.000. Karena sebelumnya sudah ada beberapa pasien, gue baru dipanggil dokter untuk diagnosisnya pada pukul 8.45 a.m. This was the beginning of the story. Dokter yang memeriksa menanyakan keluhan terlebih dahulu kemudian kita diminta untuk duduk di kursi pasien gigi. Dokter mulai memeriksa gigi yang dikeluhankan, di sini gue udah feeling feeling ngga enak

0 komentar:

Posting Komentar